Farm 165, Pelopor Budidaya Ikan Lele Sistem Biofloc

1718
Penulis: Ibra Kardi Winata
Editor: Iib
Tempat budidaya lele secara biofloc Farm 165.

DEPOKTIK. Jika anda kebetulan melewati Jalan Raya Keadilan, di kawasan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, anda akan menemukan sebuah sentra budidaya lele sekaligus sebuah rumah makan bernama Restoran Biofloc 165.

Bagi sebagian orang mungkin nama biofloc sendiri masih terkesan asing. Namun bagi pengusaha budidaya ikan seperti lele, biofloc merupakan istilah yang tengah naik daun saat ini. Biofloc sendiri merupakan sistem baru budidaya ikan yang banyak diterapkan pada pemeliharaan ikan lele.

Berdasarkan pantauan Depoktik.co.id, sentra budidaya lele yang merangkap sekaligus rumah makan tersebut dimiliki oleh seorang pengusaha asal Medan bernama Legisan Samtafsir.

Sentra budidaya lele sistem biofloc milik Legisan bahkan telah ditunjuk Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan dengan nama Farm 165.

Diungkapkan oleh Legisan, selaku pemilik dari farm 165, budidaya lele sistem biofloc merupakan budidaya lele intensif yang dapat diciptakan di pekarangan rumah. Tidak perlu kolam yang luas, tapi cukup dengan kolam bermediakan fiber atau terpal berbentuk bulat berdiameter 2,5 meter setinggi kurang lebih 1 meter.

Kolam lele yang dikembangkan dengan biofloc. Foto: Ibra/depoktik.co.id.

Pada peternakan biasa, tiap 1 meter persegi kolam hanya bisa ditebar 100 ekor benih lele. Namun dengan sistem biofloc bisa ditebar sebanyak 500 hingga 1.000 ekor benih lele dengan tingkat ketahanan mencapai 90 persen.

Budidaya lele sistem biofloc yang ada pada Farm 165, diterapkan dengan cara menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi mengolah limbah dari hasil budidaya menjadi gumpalan-gumpalan kecil yang bisa menjadi makanan alami ikan.

Caranya melalui penambahan kultur bakteri atau yang biasa disebut dengan probiotik, serta pemasangan aerator yang diperlukan untuk menyuplai oksigen sekaligus mengaduk air kolam.

Keuntungan yang didapat dari penerapan sistem biofloc ini diakui Legisan diantaranya hemat air, ramah lingkungan, serta mampu meningkatkan jumlah produktivitas ikan jadi lebih tinggi.

Jenis lele yang dibudidayakan di lokasi Farm 165 ini ada 2 jenis, yaitu lele sangkuriang dan lele mutiara.

Biasanya dalam jangka periode tertentu seperti sebulan sekali akan dilakukan pembelian sebanyak 500 kilogram hingga 1 ton ekor ikan lele yang akan diletakkan di beberapa kolam yang ada di Farm 165.

“jangka periode waktu satu bulan, biasanya saya beli dari beberapa rekan sesama pengusaha yang dibilang masih skala kecil sehingga ini juga bisa membantu usaha mereka dan nantinya mereka tidak akan bingung saat ingin menjual ikannya kemana karena kami bisa tampung,” ujarnya kepada Depoktik.co.id.

Ikan lele yang dikembangkan Farm 165. Foto: Ibra/depoktik.co.id.

Pasar konsumennya sendiri berasal dari seluruh lapisan masyarakat. Dilakukannya sistem gerilya kepada masyarakat, guna menghindari penjualan ke supermarket atau pasar-pasar yang meraup keuntungan besar secara pribadi.

Hal tersebut dilakukan bukan tanpa sengaja karena dengan cara gerilya langsung terhadap masyarakat ini tentunya juga bisa menjadi wadah pemberdayaan bagi masyarakat yang menjadi konsumennya tersebut.

“kalo produk usaha saya ini ditaruh di perusahaan besar seperti supermarket dan sejenisnya, sehingga keuntungan besar lebih didapat oleh mereka sehingga saya lebih mengutamakan menjual langsung kepada masyarakat agar mereka lebih terberdayakan,” tuturnya.

Pada 19 kolam yang dimiliki oleh Legisan, dari setiap kolamnya diisi sekitar 5.000 sampai 10.000 ekor ikan lele.

Pembuatan kolamnya pun terdapat 4 komponen, yakni komponen kolam, konstruksi kolam, filtering, benih ikan ditambah dengan ilmu yang dimiliki oleh si pengusaha tersebut.

Sedangkan untuk ukuran ideal sebuah kolam lele, yaitu untuk budidaya bisa dengan ukuran diameter 3,4 meter dan peralatan yang dibutuhkan untuk membuat sebuah kolam selain dari sudah punya kolam, yaitu bahan-bahan biofloc seperti dolomite, probiotik, molase, garam serta disinfektan. Untuk bagian permesinan, perlu aerator, waterpump, filtering, serta airstun.

Omzet yang diperoleh Legisan setiap bulannya dari usaha budidaya lele dan juga keuntungan dari Resto Biofloc 165 miliknya diungkapkan mampu menembus angka 100 juta rupiah per bulannya.

“Saya ingin Farm 165 kelak jadi pelopor bagi pusat inkubasi bisnis dari perikanan di seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Komentar Anda